Telusuri
  • Berita Terkini
  • Profil
  • Movies
  • News
katonanampek.com
  • Beranda
  • Video
    • Semua Video
    • Adat & Budaya
    • Pendidikan
    • Wisata
  • Kategori
    • Berita Terkini
    • Nasional
    • Politik
    • Ekonomi
    • Olahraga
  • Menu
    • 🏠 Beranda
    • Bukittinggi
    • Kabupaten Agam
    • Sumatera Barat
    • Nasional
    • Adat & Budaya
    • Pendidikan
    • Wisata
    • Motivasi
    • Opini
    • Tentang Kami
    • Redaksi
    • Kontak
    • Privacy Policy
Telusuri
Beranda headline Menata Kota Tanpa Harus Menebang Pohon
headline

Menata Kota Tanpa Harus Menebang Pohon

adm
adm
26 Agu, 2026 0 0
Menata Kota Tanpa Harus Menebang Pohon
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

Anda mungkin menyukai postingan ini

Oleh Dr. Gusrizal
Pemerhati Lingkungn

KATONANAMPEK BUKITTINGGI — Di banyak kota besar dunia, pohon tua bukan dianggap penghalang pembangunan. Ia justru dijadikan penanda sejarah dan paru-paru kota. Ketika rencana penataan jalan, trotoar, atau alun-alun digulirkan, langkah pertama pemerintah bukanlah menurunkan gergaji mesin. Langkah pertama adalah duduk bersama ahli arsitektur, ahli kehutanan, dan warga untuk bertanya: bagaimana caranya agar pohon ini tetap hidup?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Tapi jawabannya menentukan wajah sebuah kota 20 tahun ke depan. Di Tokyo, misalnya, ketika pelebaran jalan harus dilakukan, beberapa pohon berusia puluhan tahun dipindahkan dengan alat khusus ke lokasi baru. Biayanya mahal. Prosesnya lama. Tapi Pemkot Tokyo memilih itu daripada menebang. Alasannya jelas: pohon tua tidak bisa diganti dalam semalam. Butuh 30 sampai 50 tahun agar pohon baru bisa memberi naungan yang sama.

Di Singapura, negara yang lahannya terbatas, pohon justru jadi bagian utama dari "City in Nature". Setiap proyek pembangunan wajib menyertakan "Tree Conservation Plan". Jika satu pohon harus dipindahkan karena pembangunan MRT, maka tiga pohon baru harus ditanam sebagai pengganti, dan pohon lama harus dipindahkan dulu, bukan ditebang. Undang-undang pelestarian pohon di sana sangat ketat. Menebang pohon tanpa izin bisa kena denda puluhan ribu dolar Singapura.

Paris melakukan hal serupa. Saat merenovasi Champs-Élysées, pemerintah kota tidak menebang satu pun pohon plane tree yang sudah berusia lebih dari 100 tahun. Justru trotoar dan jalur sepeda dibuat mengelilingi akar-akarnya. Wali Kota Paris Anne Hidalgo menyebut pohon sebagai "infrastruktur hidup". Sama pentingnya dengan jembatan dan listrik. Di New York, program "MillionTreesNYC" sengaja menanam dan menjaga pohon di ruang sempit antar gedung. Karena mereka sadar, pohon menurunkan suhu kota hingga 2 derajat celcius dan menyerap polusi.

Intinya sama: di luar negeri, pohon tua diperlakukan sebagai aset, bukan hambatan. Penataan kota dilakukan dengan cara menyesuaikan desain pada pohon, bukan memaksa pohon menyesuaikan pada desain.

Lalu bagaimana dengan Bukittinggi?

Kota Jam Gadang ini dikenal sebagai kota wisata dengan udara sejuk dan banyak pohon rindang. Tapi beberapa tahun terakhir, warga mulai bertanya ketika melihat pohon-pohon tua di sepanjang jalan dan taman kota tumbang. Alasannya klasik: untuk pelebaran jalan, untuk kabel, untuk estetika, untuk proyek penataan.

Padahal Bukittinggi bukan kota baru. Banyak pohon di kawasan Pasar Atas, Ngarai, dan sekitar Jam Gadang sudah ada sejak zaman Belanda. Akarnya sudah kuat, kanopinya sudah lebar, dan fungsinya sudah teruji: menahan longsor di daerah berbukit, memberi keteduhan bagi pejalan kaki, dan menjadi rumah bagi burung-burung. Menebangnya berarti memulai lagi dari nol.

Warga Bukittinggi tentu paham bahwa kota harus terus berkembang. Jalan harus lebih lebar, drainase harus lebih baik, trotoar harus ramah disabilitas. Tapi pertanyaannya bukan "apakah kita perlu menata kota?" Pertanyaannya adalah "bisakah kita menata kota tanpa kehilangan pohon-pohon kita?"

Jawabannya ada. Ahli pertamanan kota sudah lama menyarankan teknik transplantasi pohon, pemangkasan akar selektif, dan desain infrastruktur yang fleksibel. Di negara lain, kabel listrik ditanam di bawah tanah agar tidak mengganggu tajuk pohon. Trotoar dibuat dengan paving yang bisa menyerap air agar akar tidak mati. Gorong-gorong dibuat melengkung mengikuti akar. Itu semua butuh biaya dan perencanaan lebih awal. Tapi hasilnya adalah kota yang tetap hijau sekaligus modern.

Bukittinggi punya keunggulan yang tidak dimiliki Jakarta atau Surabaya: identitas. Wisatawan datang ke Bukittinggi bukan hanya untuk Jam Gadang, tapi juga untuk suasana kota kecil yang sejuk dan teduh. Jika pohon-pohon tua itu hilang, maka yang tersisa hanya beton dan aspal. Kota akan kehilangan jiwanya.

Pemerintah tentu punya pertimbangan. Kadang pohon sudah tua dan rapuh, berisiko tumbang saat hujan. Kadang akarnya merusak saluran air. Itu semua bisa diselesaikan dengan pemangkasan, perawatan, dan pengawasan rutin, bukan dengan solusi akhir berupa penebangan. Di luar negeri, sebelum satu pohon ditebang, harus ada kajian dari ahli arboris dan izin publik. Warga bisa protes jika merasa pohon itu penting.

Mungkin sudah saatnya Bukittinggi membuat aturan serupa. Perda tentang perlindungan pohon kota. Setiap proyek penataan wajib memetakan dulu pohon-pohon yang ada. Jika harus dipindah, maka pindahkan. Jika harus dipangkas, maka pangkas dengan standar. Penebangan hanya jadi opsi terakhir, dan harus ada kewajiban tanam ganti tiga kali lipat.

Kota yang baik bukan kota yang paling banyak gedungnya. Kota yang baik adalah kota yang membuat warganya betah tinggal. Dan rasa betah itu sering kali datang dari hal sederhana: sejuknya jalan di bawah pohon, suara burung di pagi hari, dan bayangan daun yang menari di aspal.

Bukittinggi sudah punya modal besar: alam dan sejarah. Tinggal bagaimana kita menjaganya. Menata kota memang perlu. Tapi menata kota tanpa merusak warisan hijau, itu baru namanya pembangunan yang beradab.

Karena pohon yang ditebang hari ini, anak cucu kita tidak akan bisa menanamnya kembali besok. Yang bisa mereka lakukan hanyalah bertanya: dulu di sini ada pohon, kemana perginya?
Via headline
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Postingan Lama Tak ada hasil yang ditemukan
Postingan Lebih Baru

Posting Komentar

kato Mandaki

  • budaya minang

Total Tayangan Halaman

Featured Post

Menata Kota Tanpa Harus Menebang Pohon

adm- Agustus 25, 2026 0
Menata Kota Tanpa Harus Menebang Pohon
Oleh Dr. Gusrizal Pemerhati Lingkungn KATONANAMPEK BUKITTINGGI — Di banyak kota besar dunia, pohon tua bukan dianggap penghalang pembangunan. Ia j…

arsip

  • 202655

Cari Blog Ini

Most Popular

PERINGATAN MAULID DALAM ADAT DAN SYARIAT

PERINGATAN MAULID DALAM ADAT DAN SYARIAT

Agustus 22, 2026
BRUS: Bekali Remaja dengan Pemahaman Keagamaan dan Karakter Positif

BRUS: Bekali Remaja dengan Pemahaman Keagamaan dan Karakter Positif

Agustus 19, 2026
PETITIH ADAT

PETITIH ADAT

Agustus 24, 2026
katonanampek.com

Tentang Kami

Media Informasi, edukasi, dan inspirasi yang menghubungkan masyarakat dengan pengetahuan, peluang, dan perkembangan terkini. Dengan semangat profesionalisme dan inovasi, kami terus berupaya menghadirkan konten yang informatif, mencerdaskan, serta memberikan manfaat nyata bagi pembaca di seluruh Indonesia. .

Contact us: adm@detikjamgadang.com
Copyright©2026 katonanampek.com