By. M JAMIL LABAI SAMPONO.
"Sakali aia gadang tibo sakali tapian barubah,
Sakali maso barubah sakali musim baganti"
Generasi muda dalam adat, selalu mendapat tempat utama sbg generasi penerus adat dan budaya, dan ia ditempatkan sebagai salah satu limbago urang 4 jinih dubalang nagari
Dalam pembinaan anak nagari ini,
Landasan utamanya adalah filosofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang menuntun generasi penerus agar teguh dalam pendirian, santun dalam bertutur, serta bijak dalam bertindak sesuai alur dan patut.Pedoman Berpikir dan BertindakBulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakaik: Segala keputusan dan masalah harus diselesaikan lewat musyawarah.
"Kamanakan barajo ka mamak, mamak barajo ka panghulu, panghulu barajo ka mufakai, mufakat barajo ka nan bana'": Kepemimpinan dan arah hidup harus patuh pada kebenaran dan aturan adat.Tahu di untuang jo malang: Generasi muda harus mawas diri, sadar batas kemampuan, dan pandai membawa diri.Etika Pergaulan dan Merantau,Dima bumi dipijak, disitu langik dijunjung: Di mana pun berada, wajib menghormati dan menaati aturan setempat. Raso dibawok naik, pareso dibawok turun: Selalu gunakan perasaan dan pikiran jernih sebelum berbuat.Kecil tak auih, gadang tak baselo: Tumbuh menjadi pribadi yang tahu harga diri namun tetap rendah hati.Menjaga Jati Diri. Sekepal benang jadi kain, secarik kertas jadi surat: Hargai proses dan ilmu agar berguna baginagari. Nan elok dipakai, nan buruk dibuang: Pandai menyaring budaya luar yang masuk tanpa merusak akar budaya
Menyatukan nilai adat dan syariat bagi generasi muda Minangkabau dilakukan melalui konsep "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah" (ABS-SBK), yang menjadi landasan hidup masyarakat Minangkabau di Sumatra Barat. Integrasi ini membekali generasi penerus dengan identitas kultural dan spiritual yang kokoh di tengah arus modernisasi. Landasan FilosofisAdat Basandi Syarak: Adat Minangkabau bersumber dan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam.Syarak Basandi Kitabullah: Syariat Islam berpedoman pada Al-Qur'an dan Sunnah.Tali Tigo Sapilin: Keterpaduan peran antara alim ulama, cadiak pandai (intelektual), dan niniek mamak (pemimpin adat).
*Strategi Penerapan untuk Generasi Muda.
1. Pendidikan Surau dan Mushala: Menghidupkan kembali fungsi surau sebagai pusat pendidikan karakter, mengaji, sekaligus tempat belajar silat dan musyawarah adat.Integrasi Kurikulum:
2. Memasukkan nilai ABS-SBK ke dalam kegiatan ekstrakurikuler, sanggar seni, dan kegiatan kepemudaan di nagari.Pendekatan Digital:
3. Memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menyampaikan konten adat dan dakwah yang ramah anak muda.Keteladanan Tokoh:
4. Melibatkan pemuka adat dan ulama secara aktif dalam berdiskusi dengan bahasa yang relevan bagi kaum milenial dan Gen Z.
Semoga bermanfaat..
Via
Budaya
Posting Komentar